Hasil
evaluasi implementasi Kurikulum 2013 di SD yang saya surve. Menunjukkan kondisi
guru 92% telah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013, buku 100% telah memenuhi
jumlah peserta didik dan guru, kondisi sarana prasarana 98% memenuhi standar
sarana prasarana, dan kondisi RPP 88% sesuai dengan standar proses. Pembelajaran
telah sesuai dengan standar proses sebesar 89% dan evaluasi pembelajaran telah
sesuai dengan standar penilaian sebesar 90%. 88% kelas yang di surve, peserta didik memberikan respon positif
terhadap pembelajaran dan seluruh peserta didik (100%) memperoleh hasil belajar
di atas ketuntasan minimal.\
Firmansyah
Kamis, 09 November 2017
Kamis, 02 November 2017
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SD
Kurikulum
2013 adalah kurikulum terbaru yang di luncurkan oleh departemen pendidikan
nasional mulai tahun 2013 ini sebagai bentuk pengembangan dari kurikulum
sebelumnya yaitu kurikulum 2006 atau kurikulum tingkat satuan pendidikan yang
mencangkup kompetensi
sikap,pengetahuan,dan keterampilan secara terpadu.
Faktor pendukung implementasi Kurikulum 2013 meliputi buku
pedoman yang diberikan ketika sosialisasi Kurikulum 2013, arahan dari pengawas,
fasilitas sekolah, dan sosialisasi yang diberikan oleh LPMP. Dengan adanya
faktor pendukung tersebut guru-guru memanfaatkan dengan cara menggunakan buku
pedoman untuk menyusun berbagai administrasi kurikulum, memanfaatkan fasilitas
sekolah semaksimal mungkin untuk menunjang pembelajaran, mengikuti setiap
sosialisasi yang diberikan oleh LPMP, dan mencari solusi dari setiap masalah
yang dihadapi bersama dengan kepala sekolah. Apabila kepala sekolah dan guru
tidak menemukan solusi dari masalah yang ada, maka kepala sekolah meminta
bantuan kepada pengawas sekolah untuk mencari solusi dari masalah tersebut.
Orang tua peserta didik dan peserta didik juga merupakan salah
satu pendukung dalam implementasi Kurikulum 2013. Orang tua peserta didik
memberikan dukungan dengan membantu dan mengawasi anak belajar di rumah serta
orang tua mendukung adanya Kurikulum 2013 karena hal itu bisa memudahkan anak
dalam belajar. Peserta didik juga merasa senang dengan adanya Kurikulum 2013
karena mereka tidak merasa bosan belajar materi terlalu banyak karena pada
Kurikulum 2013 materi pelajaran berisikan mengenai penggabungan dari beberapa
mata pelajaran ke dalam satu tema.
Hambatan yang dihadapi oleh pihak sekolah terutama guru dalam
implementasi Kurikulum 2013 yaitu :
1.
Masih adanya peserta didik yang
belum bisa membaca, membedakan huruf, dan angka untuk Kelas I,
2.
Materi terlalu banyak dan harus
diselesaikan dengan target satu tema 1,5 bulan,
3.
Terlalu banyak administrasi yang
harus diselesaikan, pembuatan RPP harus mencantumkan tiga pendekatan, satu RPP
digunakan untuk satu kali pertemuan atau untuk satu PB,
4.
Pembelajaran tidak selalu tuntas
dalam satu PB padahal satu PB harus selesai dalam satu hari, guru merasa
kesulitan dalam membagi waktu antara pelaksanaan pembelajaran dan administrasi,
serta guru kesulitan dalam melakukan penilaian karena penilaian yang cukup
banyak.
Dari sekolah yang saya tinjau dalam mengatasi masalah terkait
materi yang belum selesai yakni:
1.
Guru memberikan tugas mandiri
terkait dengan materi yang belum tuntas
2.
Memberikan tambahan materi pada hari
selanjutnya
3.
Sebelum masuk pembelajaran baru
guru meminta bantuan kepada walimurid untuk membantu anak memahami secara
detail tema yang belum selesai.
Pemecahan masalah dalam mengatasi kendala dalam implementasi
Kurikulum 2013 terkait dengan penilaian, guru menggunaan portofolio, penilaian
kelompok, membuat rubrik penilaian, dan meminta siswa melakukan penilaian
sendiri.
Cara guru mengatasi
masalah terkait dengan adanya peserta didik yang belum bisa membaca dan menulis
di SDN 18/X Mendahara yaitu :
1. Dengan cara guru memberitahu
perkembangan kepada walimurid untuk membantu membimbing anaknya belajar membaca
dan menulis.
2. Guru bekerjasama dengan guru lain yang juga
mengikuti sosialisasi pelaksanaan Kurikulum 2013 untuk mengatasi
masalah-masalah yang dihadapi.
Sosialisasi dalam implementasi kurikulum sangat penting
dilakukan, agar semua pihak yang terlibat dalam implementasinya di lapangan
paham dengan perubahan yang harus dilakukan sesuai dengan tugas pokok dan
fungsinya masing-masing, sehingga mereka memberikan dukungan terhadap perubahan
kurikulum yang dilakukan.
SDN 18/X mendahara dalam implementasi Kurikulum 2013 juga
melakukan sosialisasi terhadap guru-guru dan walimurid, selain itu guru-guru
dan kepala sekolah juga mengikuti diklat yang diadakan oleh pemerintah untuk
kesuksesan implementasi Kurikulum 2013. Diklat Kurikulum 2013 tidak hanya
diikuti oleh kepala sekolah dan guru kelas, melainkan juga diikuti oleh guru
matapelajaran seperti guru agama dan guru olahraga.
Di SDN 18/X Mendahara, para guru ini melakukan observasi pada
setiap pembelajaran untuk melihat sikap peserta didik dalam memperoleh
pembelajaran, keterampilan peserta didik dalam memecahkan masalah, dan juga
pengetahuan yang di miliki oleh peserta didik. Sistem penilaian pada akhir
semester atau rapor dalam Kurikulum 2013 menggunakan sistem narasi, sehingga
nilai rapor tidak lagi berupa angka melainkan berupa deskripsi kemampuan
peserta didik berdasarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dimiliki
pada setiap KD. SKL pada Kurikulum 2013 mencantumkan mengenai sikap,
pengetahuan, dan keterampilan sehingga tidak ada peserta didik yang tidak naik
kelas karena setiap peserta didik pasti memiliki kemampuan sendiri-sendiri.
Dan para orang tua peserta didik
juga memberikan dukungan terhadap implementasi Kurikulum 2013 dengan mengawasi
dan membantu anak ketika belajar di rumah, orang tua peserta didik dan peserta
didik juga merasa senang dengan adanya Kurikulum 2013 karena adanya
pembelajaran tematik integratif. Adanya pembelajaran tematik bisa memudahkan
peserta didik ketika belajar karena tidak terlalu banyak materi yang harus
dipelajari dan mereka tidak akan merasa bosan, selain itu orang tua peserta
didik yang menanyakan kepada guru mengenai kekurangan dan apa saja yang
dibutuhkan oleh guru untuk menunjang proses belajar-mengajar. Jika dirasa tidak
terlalu berat, maka orang tua siswa memberikan bantuan dengan mengambilkan dari
uang paguyuban yang disertai persetujuan dari semua orang tua peserta didik
pada kelas yang bersangkutan.
Alternatif pemecahan masalah dalam
implementasi Kurikulum 2013 yang sudah dilakukan di SDN 18/X mendahara terkait
dengan pembelajaran yang belum tuntas yakni :
- Guru memberikan tugas tambahan,pada hari berikutnya sebelum jam pelajaran dimulai.
- Guru meminta bantuan kepada walimurid untuk mengawasi dan membimbing anaknya dalam belajar di rumah supaya anak bisa lebih memahami materi yang belum setiap pulang sekolah atau waktu pembelajaran selesai.
Peranan kepala sekolah, guru
pelaksana, dan guru bukan pelaksana bisa dikatakan opimal karena kepala sekolah
sudah melaksanakan perannya dengan baik yaitu
1.
Memonitoring, membantu guru dalam
memecahkan masalah
2.
Menyediakan bantuan berupa materiil
dan nonmateriil
3. SDN 18/X Mendahara sudah
mendapatkaan monitoring langsung dari pihak LPMP terkait implementasi Kurikulum
2013 baik kepada kepala sekolah dan juga proses belajar mengajar yang dilakukan
oleh guru pelaksana
Evaluasi dalam implementasi kurikulum
diperlukan oleh sekolah supaya pemerintah mengetahui kendala yang dialami guru
dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum karena dari masing-masing
sekolah kendala yang dihadapi berbeda-beda sehingga pada implementasi Kurikulum
2103 pihak LPMP mendatangi sekolah untuk melakukan monitoring secara langsung
terhadap implementasi Kurikulum 2013 di SDN 18/X Mendahara. Kegiatan monitoring
dilakukan secara rutin untuk mengetahui apakah ada kesulitan dalam implementasi
Kurikulum 2013 di sekolah yang kemudian dari kesulitan-kesulitan yang ada,
pihak pemerintah atau LPMP bisa mencarikan solusi supaya masalah yang dihadapi
kepala sekolah dan guru bisa terselesaikan.
Rabu, 25 Oktober 2017
KOMPONEN KOMPONEN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Sebelum
membahas mengenai komponen-komponen pengembangan kurikulum, ada beberapa definisi yang harus terlebih dahulu diketahui. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, komponen adalah bagian dari keseluruhan, atau bisa juga unsur.
Selanjutnya pengembangan ialah suatu hal yang dilakukan ke arah kemajuan.
Sedangkan kurikulum adalah bagian dari perangkat pendidikan. Dari masing-masing
definisi tersebut, sehingga judul tulisan ini dapat diartikan sebagai
unsur-unsur apa saja yang dapat dilakukan untuk memajukan perangkat pendidikan.
Berangkat
dari hal tersebut, maka komponen pendidikan merupakan suatu hal yang sangat
penting untuk menciptakan pendidikan ke arah yang lebih baik. Lalu, pendidikan
seperti yang sebenarnya dikatakan sudah baik? Ya, percaya atau tidak pendidikan
yang baik ialah pendidikan yang memiliki tujuan yang terarah, isi / materi
pelajarannya dapat diterima oleh peserta didik sehingga ilmu yang di transfer
oleh guru dapat diserap, metode/ strategi yang dilakukan dapat mencapai tujuan
yang diinginkan, dan dilakukan evaluasi baik itu sebelum, sedang, atau sesudah
proses pendidikan itu berjalan. Itulah idealnya, namun pada kenyataannya
meskipun pendidikan sudah memiliki tujuan, merancang strategi, dan
mengevaluasi, tetap saja tujuan pendidikan sulit untuk dicapai.
Dalam
rangka ketercapaian tujuan pendidikan, maka ada beberapa komponen-komponen yang
harus diperhatikan, dalam hal ini adalah komponen-komponen pengembangan
kurikulum. Di antaranya:
1. Komponen
Tujuan
Komponen
tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Rumusan tujuan
menggambarkan sesuatu yang dicita-citakan. Tujuan pendidikan diklasifikasikan
menjadi 4 yaitu:
1. Tujuan
Pendidikan Nasional (TPN)
Adalah
tujuan yang paling bersifat umum dan merupakan sasaran akhir yang harus
dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan. Tujuan pendidikan ini dirumuskan
dalam bentuk prilaku yang ideal sesuai dengan pandangan hidup dan filsafat
suatu bangsa yang dirumuskan pemerintah dalam bentuk undang-undang. Di
Indonesia tujuan pendidikan nasional dicantumkan dalam Undang-Undang No. 20
Tahun 2003, Pasal 3.
2. Tujuan
Institusional (TI)
Adalah
tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Tujuan ini
didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki oleh setiap siswa setelah
mereka menempuh atau dapat menyelesaikan program di suatu lembaga pendidikan
tertentu.
3. Tujuan
Kurikuler (TK)
Adalah
tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Tujuan
ini didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki siswa setelah mereka
menyelesaikan suatu bidang studi tertentu di suatu lembaga pendidikan.
4. Tujuan
Pembelajaran (TP)
Adalah
bagian dari tujuan kurikuler, dan dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang
harus dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dan
suatu bidang studi dalam satu kali pertemuan.
2. Komponen
Isi/ Materi Pelajaran
Isi
komponen merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang
harus dimiliki oleh siswa. Isi kurikulum itu menyangkut semua aspek baik yang
berhubunngan dnegan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya
tergambarkan pada isi setiap mata pelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan
kegiatan siswa. Baik materi ataupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk
mencapai tujuan yang ditentukan.
3. Komponen
Metode/ Strategi
Strategi
dan metode merupakan komponen ketiga dalam pengembangan kurikulum. Komponen ini
merupakan komponen yang sangat penting, sebab berhubungan dengan implementasi
kurikulum. Bagaimanapun bagus dan idealnya tujuan yang harus dicapai tanpa
strategi yang tepat untuk mencapainya, maka tujuan itu tidak mungkin dapat di
capai. Strategi meliputi rencana, metode, dan perangkat kegiatan yang
direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu.
4. Komponen
Evaluasi
Pengembangan
kurikulum merupakan proses yang tidak pernah berakhir (Oliva, 1998). Proses
tersebut meliputi perencanaan, implementasi, dan Evaluasi. Merujuk pada
pendapat tersebut, maka evaluasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan
dalam pengembangan kurikulum. Melalui evaluasi, dapat ditentukan nilai dan arti
kurikulum, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan apakah suatu kurikulum
perlu dipertahankan atau tidak, dan bagian-bagian mana yang perlu
disempurnakan.
Daftar pustaka
Apriyani's, Afiny Nur. 2013. KOMPONEN-KOMPONEN
PENGEMBANGAN KURIKULUM,
http://afinynurapryani.blogspot.co.id/2013/02/komponen-komponen-pengembangan-kurikulum_18.html,
di akses pada tanggal 25 oktober 2017
Senin, 16 Oktober 2017
Kurikulum dan Design Pembelajaran SD
KONSEP DASAR PENGEMBANGAN KURIKULUM
1.
Konsep
dasar pengembangan Kurikulum
Dalam
bahasa latin kurikulum berarti ”lapangan pertandingan” (race course) yaitu
arena tempat peserta didik berlari untuk mencapai finish, Baru pada tahun 1955
istilah kurikulum dipakai dalam bidang pendidikan. Dalam konteks pendidikan
nasional, secara formal kurikulum lebih diartikan sebagai suatu rencana atau
dokumen tertulis. Hal ini bisa dilihat dari pengertian kurikulum sebagai mana
tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, yang
berbunyi bahwa “ kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Bila
ditelusuri ternyata kurikulum mempunyai banya pengertian, adapun sebagian
pengertian menurut para ahli adalah sebagai berikut:
- Kurikulum adalah rancangan
pengajaran atau sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis
untuk menyelesaikan suatu program untuk memperoleh ijazah. (Crow and
Crow).
- Kurikulum adalah kelompok
pengajaran yang sistematik atau urutan subjek yang dipersyaratkan untuk
lulus atau sertifikasi dalam pelajaran mayor, misalnya kurikulum pelajaran
sosial, kurikulum pendidikan fisika (Carter V. Good dalam Oliva, 191:6).
- Kurikulum adalah seluruh pengalaman
siswa di bawah bimbingan guru (Hollis L. Caswell and Doak S. Campbell
dalam Oliva, 1991:6).
- Kurikulum adalah sebagai sebuah
perencanaan untuk memperbaiki seperangkat pembelajaran untuk seseorang
agar menjadi terdidik (J. Galen Saylor, William M. Alexander, and arthur
J. Lewis dalam Oliva 1991:6).
- Kurikulum pada umumnya berisi
pernyataan tujuan dan tujuan khusus, menunjukkan seleksi dan organisasi
konten, mengimplikasikan dan memanifestasikan pola belajar mengajar
tertentu, karena tujuan menuntut mereka atau karena organisasi konten
mempersyaratkannya. Pada akhirnya, termasuk di dalamnya program evaluasi
outcome (Hilda Taba dalam Oliva, 1991:6).
- Kurikulum sekolah adalah konten dan
proses formal maupun non formal di mana pebelajar memperoleh pengetahuan
dan pemahaman, perkembangan skil, perubahan tingkah laku, apresiasi, dan
nilai-nilai di bawah bantuan sekolah (Ronald C. Doll dalam Oliva, 1991:7).
- Kurikulum adalah rekonstruksi dari
pengetahuan dan pengalaman secara sistematik yang dikembangkan sekolah
(atau perguruan tinggi), agar dapat pebelajar meningkatkan pengetahuan dan
pengalamannnya (Danniel Tanner and Laurel N. Tanner dalam Oliva, 1991:7).
- Kurikulum dalam program pendidikan
dibagi menjadi empat elemen yaitu program belajar, program pengalaman,
program pelayanan, dan kurikulum tersembunyi (Abert I. Oliver dalam Oliva,
1991:7).
- Kurikulum mengandung konten (subject
matter), pernyataan tujuan (terminal objective), urutan konten,
pre-asesmen dari entri skill yang dipersyaratkan pada
siswa ketika mulai belajar konten (Roert M. Gagne dalam Oliva, 1991:7).
- Kurikulum adalah sejumlah
pengalaman pendidikan kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian yang
disediakan oleh sekolah bagi murid-murid di dalam dan di luar sekolah
dengan maksud menolongnya untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi
dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan
(Dr. Addamardasyi dan Dr. Munir Kamil).
Masih
bayak lagi pendapat mengenai kurikulum, Namun inti kurikulum sebenarnya adalah
pengalaman belajar yang banyak kaitannya dengan melakukan berbagai kegiatan,
interaksi sosial, di lingkungan sekolah, proses kerja sama dengan kelompok, bahkan interaksi dengan
lingkungan fisik seperti gedung sekolah dan ruang sekolah. Dengan demikian
pengalaman itu bukan sekedar mempelajari mata pelajaran, tetapi yang terpenting
adalah pengalaman kehidupan.
Ada
tiga konsep tentang kurikulum, kurikulum sebagai substansi, sebagai system dan
sebagai bidang sudi.
1.
Konsep pertama, kurikulum sebagai suatu
substansi, suatu kurikulum, dipandang orang sebagai suatu rencana
kegiatan belajar bagi murid-murid disekolah, atau sebagai suatu
perangkat tujuan yang ingin dicapai. Suatu kurikulum juga dapat digambarkan
sebagai dokumen tertulis sebagai hasil persetujuan bersama antara para penyusun
kurikulum dan pemegang kebijaksanaan pendidikan dengan masyarakat.
2.
Konsep kedua, adalah kurikulum sebagai
suatu system, yaitu System kurikulum merupakan bagian dari system persekolahan,
system pendidikan, bahkan system mayarakat. Suatu system
kurikulum mencakup struktur personalia, dan prosedur kerja bagaiman cara
menyusun suatu kurikulum, melaksanakan dan mengevaluasi serta
menyempurnakannya.
3.
Konsep ketiga, kurikulum sebagai suatu
bidang studi yaitu bidang studi kurikulum. Ini merupakan bidang kajian pra ahli
kurikulum dan ahli pendidikan dan pengajaran. Tujuan kurikulum sebagai
bidang studi adalah mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sitem kurikulum.
Adapun
dasar-dasar dalam mengembangkan kurikulum yaitu:
- kuriulum disusun untuk mewujudkan
system pendidikan nasional.
- Kurikulum pada semua jenjang pendidikan
dikembangkan dengan pendekatan kemampuan.
- kurikulum harus sesuai dengan cirri
khas satuan pendidikan pada masing-masing jenjang pendidikan.
- kurikulum pada semua jenjang
pendidikan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan , potensi, dan minat
peserta didik dan tuntutan pihak-pihak yang memerlukan dan
berkepentingan.
- kurikulum pada semua jenjang
pendidikan dikembangkan sesuai dengan tuntutan lingkungan .
- kurikulum pada semua jenjag
pendidikan mencakup aspek spiritual keagamaan, intelektualitas, watak
konsep diri, keterampilan belajar, kewirausahaan, keterampilan hidup yang
berharkat dan bermartabat, pola hidup sehat, estetika dan rasa kebangsaan.
2.
Fungsi
dan Cara Mengembangkan Kurikulum
Fungsi
kurikulum ialah sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan tugasnya. Selain itu kurikulum
berfungsi sebagai:
- Preventif yaitu agar guru terhindar dari melakukan hal-hal
yang tidak sesuai dengan apa yang ditetapkan kurikulum
- Korektif yaitu sebagai rambu-rambu
yang menjadi pedoman dalam membetulkan pelaksanaan pendidikan yang
menyimpang dari yang telah digariskan dalam kurikulum
- Konstruktif yaitu memberikan arah
yang benar bagi pelaksanaan dan mengembangkan pelaksanaannya asalkan arah
pngembangannya mengacu pada kurikulum yang berlaku
Agar
usaha perbaikan kurikulum disekolah dapat berhasil baik, hendaknya diperhatikan
langkah-langkah pengembangan kurikulum berikut :
- Adakan penilaian umum tentang
sekolah, dalam hal apa sekolah itu lebih baik atau lebih rendah mutunya
dari pada sekolah lain, adanya diskrepansi antara keyataan dengan apa yang
diharapkan bebagai pihak, sumber-sumber yang tersedia.
- Selidiki berbagai kebutuhan, anatara
lain kebutuhan siswa, kebutuhan guru, dan kebutuhan akan perubahan dan
perbaikan.
- Mengidentifikasi masalah serta merumuskannya, yang
timbul berdasarkan studi tentang berbagai kebutuhan yang tersebut diatas
lalu memilih salah satu yang dianggap paling mendesak.
- Mengajukan saran perbaikan,
sebaiknya Dalam bentuk tertulis, yang dapat didiskusikan bersama, apakah
sesuai dengan tuntunan kurikulum yang berlaku, menilai maknanya bagi
perbaikan sekolah dan menjelaskan makna dan implikasinya.
- Menyiapkan desai perencanaanya yang
mencakup tujuan, cara mengevaluasi, menentukan bahan pelajaran, metode penyampaianya, percobaan,
penilaian, balikan, perbaikan, pelaksanan dan seterusnya.
- Memeilih anggota panitaia, sedapat
mungkin sesuai dengan kompetensi masing-masing.
- Mengawasi pekerjaan panitia,
biasanya oleh kepala sekolah
- Melaksanakan hasil panitia
oleh guru dalam kelas. Oleh sebab pekerjaan ini tidak
mudah, kepala sekolah hendaknya senantiasa menyatakan penghargaannya atas
pekerjaan semua yang terlibat dalam usaha perbaikan ini.
- Menerapkan cara-cara evaluasi,
apakah yang direncanakan itu da direalisasikan. Apa yang indah diatas
kertas, belum tentu dapat diwujudkan.
- Memantapkan perbaikan, bila
ternyata usaha tu berhasil baik dan dijadikan pedoman selanjutnya.
Daftar pustaka
Anonim. 2016. Dasar Dasar Pengembangan Kurikulum,
http://www.sarjanaku.com/2012/01/dasar-dasar-pengembangan-kurikulum.html,
diakses pada tanggal 16 Oktober 2017.
http://www.sarjanaku.com/2012/01/dasar-dasar-pengembangan-kurikulum.html,
diakses pada tanggal 16 Oktober 2017.
Haryanto,Feri Dwi. 2015. konsep dasar kurikulum,
http://feri.blogs.uny.ac.id/2015/09/29/konsep-dasar-kurikulum, diakses pada
tanggal 16 Oktober 2017.
http://feri.blogs.uny.ac.id/2015/09/29/konsep-dasar-kurikulum, diakses pada
tanggal 16 Oktober 2017.
Langganan:
Postingan (Atom)
